Welcome Guest | Register | Login
halaman depan
 
 

Mengintip Panen Madu Hutan di Alaaha

Selasa, 13 November 2007

Panen Madu…
Desa yang diapit oleh 4 pegunungan yaitu Tangkelemboke, Abuki, Mekongga dan Tamosi ini memiliki potensi madu hutan (Apis dorsata) sebesar 45 ton/tahun (30 ton diperoleh saat panen pada bulan Oktober-November dan 15 ton diperoleh saat panen pada bulan Maret-April). Cara panen madu hutan di desa ini terbilang unik. Untuk mengusir lebah dari sarangnya, para petani madu membuat asap buatan dari beberapa bilah bambu sepanjang sekitar 1 meter, yang diikatkan menjadi satu sehingga membentuk silinder. Agar asap hanya keluar ke satu arah, yaitu melalui bagian atas ikatan bilah bambu, maka sebelum diikat menjadi satu, bagian luar ikatan bambu tersebut ditutupi daun walae. Setelah diikat kuat, bagian bawah ikatan bambu tersebut dibakar. Setelah dirasa cukup banyak asap yang didapat, maka ikatan bamboo berasap tersebut dibawa mendekati sarang lebah yang akan dipanen.

Di hutan Alaaha, dalam satu pohon setinggi 5-6 meter dapat dijumpai 1-2 buah sarang lebah yang masing-masing beratnya dapat mencapai sekitar 10-30 kg. Kali ini kami memanen 1 buah sarang lebah hutan berukuran sekitar 1x1m yang dapat menghasilkan madu sekitar 25-30 kg. Setelah asap diarahkan ke sarang lebah, maka tak lama kemudian ratusan ribu lebah hutan yang menyerupai gumpalan awan hitam beterbangan keluar sarang. Denging ratusan ribu lebah yang marah karena sarangnya diusik, untuk sesaat memenuhi udara di hutan tersebut.

Setelah sarang ditinggalkan oleh para lebah, termasuk sang ratu lebah, maka dimulailah pemanenan. Perlahan sarang yang telah masak tersebut (sarang masak ditandai dengan telah tertutupnya semua bagian luar sarang lebah dengan lilin madu -red) diiris menggunakan pisau tajam. Perlahan cairan manis madu mengucur dari sarang yang telah diiris, madu yang meluncur deras tersebut ditadahi dengan sebuah jerigen putih yang ikatkan di bagian batang pohon tersebut. Sembari menunggu tetesan madu, sarang lebah yang telah masak tersebut dipanen, lalu dimasukkan ke jerigen dan segera diturunkan dari atas pohon untuk pemrosesan lebih lanjut.

Proses pemisahan madu dan lilin ternyata cukup mudah. Madu-madu yang telah dipanen, dikumpulkan lalu diiris bagian pipanya kemudian diletakkan diatas kain kasa yang dibentangkan di atas jerigen putih. Cairan madu yang berada di sarang lambat laun menetes ke dalam jerigen. Untuk menunggu cairan madu habis menetes ke jerigen diperlukan waktu sekitar 5-8 jam. Setelah itu, madu baru dapat dikemas ke dalam botol dan siap dipasarkan.

Berbeda dengan panen madu hutan tradisional yang kebanyakan dilakukan hampir di seluruh kawasan di Indonesia, teknik panen di desa ini dilakukan pada siang hari. "Teknik panen di Alaaha yang dilakukan pada siang hari ini merupakan satu keuntungan tersendiri. Di waktu siang, kita dapat melihat larinya lebah sehingga dapat menghindar jika akan disengat, juga memperkecil tingkat kematian lebah yang timbul akibat pemanenan," tutur Robert Leo dari Keystone Foundation, India yang sengaja datang ke Alaaha untuk melakukan studi banding teknik panen madu hutan. "Ratu lebah yang terbang bersama para pekerjanya dapat membuat koloni baru di tempat baru pula," tambah Leo yang turut menyaksikan panen madu hutan pagi itu.

Pemasaran
Petani madu di Alaaha tergabung dalam sebuah koperasi yang bernama Koperasi Ueesi Bersinar. Koperasi ini didirikan pada bulan Pebruari 2006 yang lalu dan salah satu usahanya adalah pengembangan madu hutan yang kini mempunyai anggota sebanyak 30 orang petani adu yang terbagi dalam 6 kelompok.

Teknik panen lestari yang kini diterapkan di Alaaha membuat harga madu hutan di kawasan ini terdongkrak naik. "Kalau dengan teknik diperas, 1 kg madu dihargai Rp.10.000,- – 12.000,-. Sekarang, dengan teknik panen lestari, koperasi berani membayar hingga Rp.20.000,- per kilogramnya," ungkap Dedi, kepala divisi madu hutan di Koperasi Ueesi Bersinar tersebut. "Jika masyarakat telah melakukan cara panen seperti ini, ditambah harga yang lebih baik, kemungkinan masyarakat disini akan melakukan teknik panen lestari dan menjualnya ke koperasi. Tapi apakah koperasi mempunyai modal untuk membeli madu-madu tersebut?" tanya Dedi.

Madu dari hutan Alaaha mempunyai kadar air cukup rendah yaitu 21% (biasanya kadar air madu hutan di hutan-hutan tropis berkisar 24% -red), ditambah lagi proses panen lestari yang telah diterapkan oleh para petani madu, membuat madu hutan Alaaha tidak akan kesulitan menembus pasar nasional. Terlebih Dian Niaga Jakarta (DNJ) tetap berkomitmen membantu memfasilitasi aspek pemasaran. Ditambah YASCITA, yang yang juga merupakan salah satu anggota Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), yang setia mendampingi masyarakat di desa ini.

"Pemasaran melalui satu pintu untuk pasar nasional dan ekspor mutlak diperlukan. Dian Niaga akan membantu ekspor, packaging development, lab test dll," kata Johnny Utama dari DNJ mengungkapkan komitmennya terhadap madu hutan JMHI. "Yang sudah pasti, untuk tahun 2007 ada permintaan pasar madu hutan sebanyak 5 ton. Peluang ini dapat diisi oleh semua anggota JMHI," ungkapnya. "Tahun lalu JMHI memiliki potensi pasar sekitar 200 ton madu hutan, namun DNJ hanya mampu memasarkan 3 ton saja. Dan yang perlu diingat, ada beberapa persyaratan sebagai supplier yang harus dipenuhi terlebih dahulu, diantaranya yaitu harus memiliki SIUPP, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), ijin dari Departemen Kesehatan, ada bar code, dan sertifikat organic," tambahnya.

Dan untuk mendapatkan sertifikat organic ini, BIOCert sebagai salah satu mitra JMHI juga berkomitmen siap memfasilitasi madu hutan Alaaha mendapatkan sertifikasi organic. Dengan sudah adanya organisasi tani, organisasi pendukung dan teknik panen lestari, diharapkan madu hutan Alaaha mampu menembus pasar dunia.

"Untuk pemasaran yang akan datang, Dian Niaga akan menerapkan sistem pembelian jauh hari sebelum musim panen dengan harga yang fair dan disepakati bersama. Selain itu juga dibutuhkan system petukaran informasi dan komunikasi yang handal dan up to date guna bisa mengikuti permintaan pasar," jelas Johhny.

Pengelolaan madu dengan teknik baru (system sunat dan panen siang hari) dan tanpa pemerasan, jelas akan meningkatkan kualitas serta ketersediaan madu di alam. Dengan mutu yang terjaga baik, ditambah label organic yang akan semakin meningkatkan daya tawar sehingga masyarakat mampu menjual dengan harga yang lebih baik, maka kelestarian alam akan tercapai seiring dengan terciptanya kesejahteraan masyarakat. (sny)

 

 

News Archieve

   
NILAI PENJUALAN PASAR ORGANIK INDONESIA CAPAI RP 10 M PER TAHUN
Bali Bangun Pusat Perdagangan Produk Organik
Unit PAMOR Bogor menjamin organik di DKI, Banten, Jabar
Nurjanah Ginting Buktikan Pertanian Organik Jauh Lebih Baik
Fadly Jadi Juragan Sayur Organik
Kembali Digelar, Bogor Organic Fair 2013
Pelatihan untuk Membangun PAMOR Berlangsung di Bogor
TOT ICS: Tingkatkan Kemampuan Menjamin Produk Organik Petani Kecil
Petani Bangun Rumah Pupuk Organik
Buku Baru AOI: “Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2012”
\"Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2012\"
Bupati Solok Minta Petani Gunakan Pupuk Organik
Pemerintah Seharusnya Fasilitasi Penjaminan Komunitas
Sulap Halaman Rumah Menjadi Sawah
Triono, Tak Segan Berbagi Ilmu
7 Lembaga Siap Jalankan PAMOR INDONESIA
Meningkatkan Daya Jual Produk Organik Melalui Pengembangan Pangan Olahan
Prospek Pemanfaatan Herbal dan Tantangannya di Indonesia
Meraih Keuntungan Finansial dan Sosial dalam Bisnis Produk Organik
Menyatukan Generasi Muda dengan Pangan Lokal
“Menabung” Sampah di Bank Sampah, Langkah Tepat Reduksi Sampah Perkotaan
Jangan Takut Mengkonsumsi Herbal!
Ada Pameran Organik dan Herbal di Bogor... Datang Yuk!
Seminar Pangan Organik Olahan
Akan ada Fadly PADI di Talk Show Gaya Hidup Organis BOF 2 - FHI
AOI - AKSI - IPB - Pemkot Bogor Gelar Pameran Organik
Lomba Poster BOF 2 - FHI
Ikutan Yuuuuk.... Lomba Tanaman & Buah Eksotik di BOF 2 - FHI
AOI Adakan Demo Masak Jelang BOF2-FHI
Produk Kecantikan Organik Untuk Peraih Oscar
Menembus Hambatan Kultur memperkenalkan Pertanian Organik
Pertanian Organik Jombang Dilirik Bank Dunia
Perspektif Pertanian Organik Belum Ada di Dokumen Penganggaran Negara
RI Mampu Ekspor Produk Organik
Perintis Padi Organik dari Pinggir Malang
Petani Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan
Sertifikat Indikasi Geografis Untuk Beras Adan Krayan
Pelatihan Teknik Panen Madu Hutan Secara Lestari di Kampung Serdatang Desa Nanga Tuan Kec. Bunut Hil
Kopi Temanggung Akan Disertifikasi
7 Alasan Kenapa Memilih Makanan Organik
Pangan dari Hutan, Alami dan Bernutrisi Tinggi
Hutan dan Pertanian Organik Saling Melengkapi
Beras Adan Krayan Peroleh Sertifikasi Indikasi Geografis
Jerman Terbuka bagi Produk Pangan Organik Indonesia
Pemprov Bali Bertekad Jadikan Bali sebagai Pulau Organik
Pilih-pilih Buah Naga Organik untuk Imlek
Desa Melung Buka Agrowisata Sayur Organik
Mengenalkan Tanaman Organik Sejak Dini
Penjaminan Organik Partisipatif Beri Kapastian Konsumen
Panen Madu Lestari di Ujung Kulon
Madu Hutan dan Tantangannya
Panen Lestari Madu Hutan
AOI Mengadakan Pelatihan untuk Pelatih ICS
Korea Tularkan Pertanian Organik
Sehat ala Organik Kini Tak Musti Mahal
Atasi Pasar Organik dengan Sertifikasi Komunitas
Pertanian Organik Kunci Kesejahteraan Petani
Perkuat Peran Pertanian Organik bagi Ketahanan Pangan dan Mitigasi Perubahan Iklim
Sertifikasi Hambat Petani Organik
SIARAN PERS: Praktik & Produk Organik Meningkat, tapi Kebijakan Tidak Mendukung
Petani Organik Keluhkan Penolakan Pembelian
Petani Organik Kalbar Terhambat Sertifikasi
Pertanian Organik Kunci Kesejahteraan Petani
Aliansi Organis Indonesia Gelar Diskusi Publik dan Rapat Umum Anggota
Petani Organik Indonesia Gelar Konsolidasi di Pontianak
SIARAN PERS: Atasi Pasar Organik dengan Sertifikasi Komunitas
Produk Organik Diminati
Produk Organik Bisa Jaga Kesehatan
Produk Organik juga Berbentuk Gaya Hidup
Pameran Unik di Kembangan
Pameran Produk Organik
Petani Organik Gelar Pameran Produk Pangan
70 UKM Kenalkan Produk Organik untuk Anda
Perluasan Pertanian Organik Diharapkan Penuhi Pangan Sehat
Lumintu, dari Sampah Jadi Berkah
Organic, Green and Healthy EXPO 2011 Semakin Ramai
OGH INDONESIA 2011, Ajang Promosi Gaya Hidup Organik Telah Dibuka
41 tahun Gerakan Pertanian Organik Dunia di Korea Selatan
Madu Bebas Residu Pestisida, Sumber Nutrisi dan Obat
Organic, Green & Healthy Expo 2011
Organic, Green & Healthy Expo 2011
Eropa dan Amerika Minati Organik Indonesia
Tingkatkan Konsumsi Pangan Organik
Lebih Sehat dengan Makanan Organik
Petani Kewalahan Penuhi Permintaan Beras Organik
Deasy: Produk Organik Lebih Sehat
Kebijakan Pertanian Organik Masih Setengah Hati
Sertifikasi Produk Organik Cegah Permainan Harga
Membeli dari Petani Kecil, Membeli Produk Kejujuran
Membeli dari Petani Kecil, Membeli Produk Kejujuran
Membeli dari Petani Kecil, Membeli Produk Kejujuran
Bebaskan Biaya Sertifikasi Organik Bagi Petani Kecil, Akui Sistem Penjaminan Mutu Berbasis Komunitas
Tinjau Ulang Sertifikasi Organik bagi Petani
AOI Desak Tinjau Ulang Sertifikasi Organik
AOI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Sertifikasi Organik Petani
Konsumsi Organik Kurangi Emisi Karbon
Batanghari Kembangkan Pertanian Organik
ICS, Berbagi Informasi untuk Tingkatkan Mutu Jambu Mete Organik
400 Petani Padi Organik Desa Sawangan Akan Sertifikasi Produknya
Pembinaan Sertifikasi Pangan Organik
Pertanian Organik Sebagai Green Economy dan Produksi Berkelanjutan
Pemprov Bali Bentuk Kelompok Tani Mandiri Pupuk Organik
Pertanian Organik Mudah dan Murah
Luas Lahan Pertanian Organik Indonesia Meningkat 10% Tahun 2010
Buku Baru AOI
Organic Café Hadir di Jakarta
Rezeki Besar Petani dari Padi Organik
Produsen dan Produk Organik Bersertifikat Meningkat
Telah Dibuka: Warung Organik di Ciluar - Bogor
Warung Organik Sahabat Petani Diluncurkan
Satu Lagi Warung Organik di Bogor
Arif dan Cerdik Sikapi Sertifikasi Organik
Produk Organik, Sadarkan Masyarakat Hidup Organis
Kawasan Organik Global Terus Berkembang
Perlu Komunikasi Partisipatif Petani dalam Pembangunan Pertanian
Deasy: Sertifikasi Penting untuk Menjamin Organik
Pertanian Organik Lebih Berkembang di Padang Panjang
Geliat Organik di Banjarnegara
Padi Adan Tana Tam, Tradisional dan Organik Dataran Tinggi Krayan
Makanan Indonesia Lebih Sehat dengan Bahan Nutrisi Tinggi
Biopori dan Kompos untuk Menjaga Kualitas Tanah dan Lingkungan Hidup
Yuk Belajar Pertanian Organik Lewat Gambar dan Warna
Lebih Sehat dengan Produk Organik dan Ramah Lingkungan
Indonesia Organic and Green Fair 2010, Dekatkan Petani dan Konsumen Organik
Run Down Acara Indonesia Organic & Green fair 2010
Peserta Indonesia Organic & Green Fair 2010
Siapa Saja Peserta Indonesia Organic & Green Fair 2010?
Indonesia Organic & Green Fair 2010
IOA is Looking For New Staffs
“ZEEN” Chiki Sehat dari Malang
Sertifikat Organis untuk Kayu Manis Malaris-Loksado
Pestisida Sebabkan Anak Hiperaktif?
Call For Proposal
Titik Kecil di Kemegahan BioFach
BUKU BARU
ORGANIC DAY
IOA is Looking for New Staff
Draft Revisi Sistem Pangan Organik
Program Dukungan Dana Bergulir AOI
Program Dukungan Dana Bergulir AOI
“Mencermati Regulasi dan Bisnis Pertanian Organis Terkini di Indonesia”
Seruan Organis “ Proud To be Part”
Kertas Posisi AOI: ”Wujudkan Danau Sentarum Lestari”
Lomba Design Logo
“Ngala Berkah” di Kaki Gunung Salak
“Ngala Berkah” di Kaki Gunung Salak
Kertas Posisi & Pernyataan Pers AOI di Kongres Pertanian Organis Nasional, Yogyakarta, 4-8 November
KONGRES PERTANIAN ORGANIS AOI
Seminar Terbuka untuk Umum
Riset Terbaru Kualitas dan Keamanan Pangan Organik
BUKU BARU: Pertanian Organik Solusi Hidup Harmoni & Berkelanjutan
WE ARE MOVING
JKPE Tidak Peduli kelangkaan Pupuk
ICS: Membangun Organisasi Penjaminan Kualitas Produk Organik
IOA Looking for a New Staff
IOA Looking for a New Staff
Rudin Barus: Kini Kami dapat Tersenyum Berkat Jeruk Organik
Seren Taun: Bentuk Aktualisasi Sosial Budaya dalam Pertanian Organis
AOI Looking For Candidates for Some New Position
SURA RAYA TANI ALAMI
AOI Pindah Kantor
 
English Version Halaman depan Home