Panen Madu…
Desa yang diapit oleh 4 pegunungan yaitu Tangkelemboke, Abuki, Mekongga dan Tamosi ini memiliki potensi madu hutan (Apis dorsata) sebesar 45 ton/tahun (30 ton diperoleh saat panen pada bulan Oktober-November dan 15 ton diperoleh saat panen pada bulan Maret-April). Cara panen madu hutan di desa ini terbilang unik. Untuk mengusir lebah dari sarangnya, para petani madu membuat asap buatan dari beberapa bilah bambu sepanjang sekitar 1 meter, yang diikatkan menjadi satu sehingga membentuk silinder. Agar asap hanya keluar ke satu arah, yaitu melalui bagian atas ikatan bilah bambu, maka sebelum diikat menjadi satu, bagian luar ikatan bambu tersebut ditutupi daun walae. Setelah diikat kuat, bagian bawah ikatan bambu tersebut dibakar. Setelah dirasa cukup banyak asap yang didapat, maka ikatan bamboo berasap tersebut dibawa mendekati sarang lebah yang akan dipanen.
Di hutan Alaaha, dalam satu pohon setinggi 5-6 meter dapat dijumpai 1-2 buah sarang lebah yang masing-masing beratnya dapat mencapai sekitar 10-30 kg. Kali ini kami memanen 1 buah sarang lebah hutan berukuran sekitar 1x1m yang dapat menghasilkan madu sekitar 25-30 kg. Setelah asap diarahkan ke sarang lebah, maka tak lama kemudian ratusan ribu lebah hutan yang menyerupai gumpalan awan hitam beterbangan keluar sarang. Denging ratusan ribu lebah yang marah karena sarangnya diusik, untuk sesaat memenuhi udara di hutan tersebut.
Setelah sarang ditinggalkan oleh para lebah, termasuk sang ratu lebah, maka dimulailah pemanenan. Perlahan sarang yang telah masak tersebut (sarang masak ditandai dengan telah tertutupnya semua bagian luar sarang lebah dengan lilin madu -red) diiris menggunakan pisau tajam. Perlahan cairan manis madu mengucur dari sarang yang telah diiris, madu yang meluncur deras tersebut ditadahi dengan sebuah jerigen putih yang ikatkan di bagian batang pohon tersebut. Sembari menunggu tetesan madu, sarang lebah yang telah masak tersebut dipanen, lalu dimasukkan ke jerigen dan segera diturunkan dari atas pohon untuk pemrosesan lebih lanjut.
Proses pemisahan madu dan lilin ternyata cukup mudah. Madu-madu yang telah dipanen, dikumpulkan lalu diiris bagian pipanya kemudian diletakkan diatas kain kasa yang dibentangkan di atas jerigen putih. Cairan madu yang berada di sarang lambat laun menetes ke dalam jerigen. Untuk menunggu cairan madu habis menetes ke jerigen diperlukan waktu sekitar 5-8 jam. Setelah itu, madu baru dapat dikemas ke dalam botol dan siap dipasarkan.
Berbeda dengan panen madu hutan tradisional yang kebanyakan dilakukan hampir di seluruh kawasan di Indonesia, teknik panen di desa ini dilakukan pada siang hari. "Teknik panen di Alaaha yang dilakukan pada siang hari ini merupakan satu keuntungan tersendiri. Di waktu siang, kita dapat melihat larinya lebah sehingga dapat menghindar jika akan disengat, juga memperkecil tingkat kematian lebah yang timbul akibat pemanenan," tutur Robert Leo dari Keystone Foundation, India yang sengaja datang ke Alaaha untuk melakukan studi banding teknik panen madu hutan. "Ratu lebah yang terbang bersama para pekerjanya dapat membuat koloni baru di tempat baru pula," tambah Leo yang turut menyaksikan panen madu hutan pagi itu.
Pemasaran
Petani madu di Alaaha tergabung dalam sebuah koperasi yang bernama Koperasi Ueesi Bersinar. Koperasi ini didirikan pada bulan Pebruari 2006 yang lalu dan salah satu usahanya adalah pengembangan madu hutan yang kini mempunyai anggota sebanyak 30 orang petani adu yang terbagi dalam 6 kelompok.
Teknik panen lestari yang kini diterapkan di Alaaha membuat harga madu hutan di kawasan ini terdongkrak naik. "Kalau dengan teknik diperas, 1 kg madu dihargai Rp.10.000,- – 12.000,-. Sekarang, dengan teknik panen lestari, koperasi berani membayar hingga Rp.20.000,- per kilogramnya," ungkap Dedi, kepala divisi madu hutan di Koperasi Ueesi Bersinar tersebut. "Jika masyarakat telah melakukan cara panen seperti ini, ditambah harga yang lebih baik, kemungkinan masyarakat disini akan melakukan teknik panen lestari dan menjualnya ke koperasi. Tapi apakah koperasi mempunyai modal untuk membeli madu-madu tersebut?" tanya Dedi.
Madu dari hutan Alaaha mempunyai kadar air cukup rendah yaitu 21% (biasanya kadar air madu hutan di hutan-hutan tropis berkisar 24% -red), ditambah lagi proses panen lestari yang telah diterapkan oleh para petani madu, membuat madu hutan Alaaha tidak akan kesulitan menembus pasar nasional. Terlebih Dian Niaga Jakarta (DNJ) tetap berkomitmen membantu memfasilitasi aspek pemasaran. Ditambah YASCITA, yang yang juga merupakan salah satu anggota Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), yang setia mendampingi masyarakat di desa ini.
"Pemasaran melalui satu pintu untuk pasar nasional dan ekspor mutlak diperlukan. Dian Niaga akan membantu ekspor, packaging development, lab test dll," kata Johnny Utama dari DNJ mengungkapkan komitmennya terhadap madu hutan JMHI. "Yang sudah pasti, untuk tahun 2007 ada permintaan pasar madu hutan sebanyak 5 ton. Peluang ini dapat diisi oleh semua anggota JMHI," ungkapnya. "Tahun lalu JMHI memiliki potensi pasar sekitar 200 ton madu hutan, namun DNJ hanya mampu memasarkan 3 ton saja. Dan yang perlu diingat, ada beberapa persyaratan sebagai supplier yang harus dipenuhi terlebih dahulu, diantaranya yaitu harus memiliki SIUPP, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), ijin dari Departemen Kesehatan, ada bar code, dan sertifikat organic," tambahnya.
Dan untuk mendapatkan sertifikat organic ini, BIOCert sebagai salah satu mitra JMHI juga berkomitmen siap memfasilitasi madu hutan Alaaha mendapatkan sertifikasi organic. Dengan sudah adanya organisasi tani, organisasi pendukung dan teknik panen lestari, diharapkan madu hutan Alaaha mampu menembus pasar dunia.
"Untuk pemasaran yang akan datang, Dian Niaga akan menerapkan sistem pembelian jauh hari sebelum musim panen dengan harga yang fair dan disepakati bersama. Selain itu juga dibutuhkan system petukaran informasi dan komunikasi yang handal dan up to date guna bisa mengikuti permintaan pasar," jelas Johhny.
Pengelolaan madu dengan teknik baru (system sunat dan panen siang hari) dan tanpa pemerasan, jelas akan meningkatkan kualitas serta ketersediaan madu di alam. Dengan mutu yang terjaga baik, ditambah label organic yang akan semakin meningkatkan daya tawar sehingga masyarakat mampu menjual dengan harga yang lebih baik, maka kelestarian alam akan tercapai seiring dengan terciptanya kesejahteraan masyarakat. (sny)