Welcome Guest | Register | Login
halaman depan
 
 

“Ngala Berkah” di Kaki Gunung Salak

Kamis, 15 Januari 2009

Sabtu-Minggu,10-11 Januari 2009, Aliansi Organis Indonesia (AOI) Bogor, ELSPPAT (LSM di Bogor yang bergerak di pendampingan masyarakat pedesaan, dan LESTARI (pemasar organic di Bogor) menggelar acara bertajuk “Sura Raya Tani Alami”  di Kampung Cijulang, Desa Sukaharja, Bogor. Kegiatan ini merupakan acara tahunan (tahun lalu dilaksanakan pada 13 Januari 2008 -red), yang terdiri dari: Temu Petani – Konsumen yang dilaksanakan pada hari pertama dan dilanjutkan dengan Upacara Adat “Sedekah Bumi” di hari kedua.

Temu petani-konsumen organic, yang digelar di  salah satu halaman rumah warga di Kampung yang terletak 75 km dari Ibu Kota Jakarta ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari petani, konsumen, pemasar organic dan unsur pemerintah daerah ini mendiskusikan permasalahan seputar u
paya membangun gerakan pertanian organik di tingkat petani yang disampaikan oleh seorang petani organic setempat, lalu disampaikan juga bagaimana membangun pasar alternative produk organic yang disampaikan oleh salah seorang staf pemasar dari LESTARI. Dan ada juga perwakilan dari konsumen organik yang menyampaikan bagaimana membangun organisasi konsumen organic.

Kegiatan setengah hari ini dimeriahkan dengan pameran produk (baik segar maupun olahan) organic yang dihasilkan oleh petani-petani organic di Kampung Cijulang. Dan dengan ditemani hujan yang tidak begitu lebat, peserta diajak mengunjungi kebun organic dan dapat panen langsung di kebun petani di kawasan kaki Gunung Salak ini.

Dihari kedua, kegiatan lebih pada ritual adat yang mereka (masyarakat Desa Cijulang-red) namakan sebagai “Sedekah Bumi.” Acara ini merupakan ungkapan syukur kaum tani atas kelimpahan tanah yang subur dan hasil bumi yang melimpah yang diwujudkan dengan mempersembahkan hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian (sikep hejo buah beti). Juga sebagai perayaan menyambut pergantian awal tahun baru 1 Sura/Muharam.

Yang  menarik adalah, setelah pembacaan doa, masyarakat yang mengikuti dan menyaksikan ritual ini saling berebut mengambil hasil bumi yang digantungkan di tiang-tiang yang terbuat dari bamboo dan juga dari dondang yang mereka bawa untuk ngala berkah (bahasa Sunda yang artinya mendapatkan berkah-red). (SNY)

Sabtu-Minggu,10-11 Januari 2009, Aliansi Organis Indonesia (AOI) Bogor, ELSPPAT (LSM di Bogor yang bergerak di pendampingan masyarakat pedesaan, dan LESTARI (pemasar organic di Bogor) menggelar acara bertajuk “Sura Raya Tani Alami”  di Kampung Cijulang, Desa Sukaharja, Bogor. Kegiatan ini merupakan acara tahunan (tahun lalu dilaksanakan pada 13 Januari 2008 -red), yang terdiri dari: Temu Petani – Konsumen yang dilaksanakan pada hari pertama dan dilanjutkan dengan Upacara Adat “Sedekah Bumi” di hari kedua.

Temu petani-konsumen organic, yang digelar di  salah satu halaman rumah warga di Kampung yang terletak 75 km dari Ibu Kota Jakarta ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari petani, konsumen, pemasar organic dan unsur pemerintah daerah ini mendiskusikan permasalahan seputar u
paya membangun gerakan pertanian organik di tingkat petani yang disampaikan oleh seorang petani organic setempat, lalu disampaikan juga bagaimana membangun pasar alternative produk organic yang disampaikan oleh salah seorang staf pemasar dari LESTARI. Dan ada juga perwakilan dari konsumen organik yang menyampaikan bagaimana membangun organisasi konsumen organic.

Kegiatan setengah hari ini dimeriahkan dengan pameran produk (baik segar maupun olahan) organic yang dihasilkan oleh petani-petani organic di Kampung Cijulang. Dan dengan ditemani hujan yang tidak begitu lebat, peserta diajak mengunjungi kebun organic dan dapat panen langsung di kebun petani di kawasan kaki Gunung Salak ini.

Dihari kedua, kegiatan lebih pada ritual adat yang mereka (masyarakat Desa Cijulang-red) namakan sebagai “Sedekah Bumi.” Acara ini merupakan ungkapan syukur kaum tani atas kelimpahan tanah yang subur dan hasil bumi yang melimpah yang diwujudkan dengan mempersembahkan hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian (sikep hejo buah beti). Juga sebagai perayaan menyambut pergantian awal tahun baru 1 Sura/Muharam.

Yang  menarik adalah, setelah pembacaan doa, masyarakat yang mengikuti dan menyaksikan ritual ini saling berebut mengambil hasil bumi yang digantungkan di tiang-tiang yang terbuat dari bamboo dan juga dari dondang yang mereka bawa untuk ngala berkah (bahasa Sunda yang artinya mendapatkan berkah-red). (SNY)

 
English Version Halaman depan Home