Produk Organik, Pilihan Bagi Konsumen
Senin, 18 Juli 2011
Selama ini masyarakat mengenal produk organik sebagai produk yang mahal. Memang harganya lebih tinggi daripada produk non organik. Namun itu bukanlah kendala untuk bisa menikmati produk organik yang menyehatkan.
“Untuk membeli produk organik memang saya harus menyisihkan uang lebih daripada membeli produk non organik. Tapi saya bisa mengatasinya,” ungkap Deasy Noviyanti sebagai konsumen produk organik di acara talkshow bertema “Pertanian Organik Solusi Pangan Sehat dan Berkeadilan,” yang diselenggarakan Aliansi Organis Indonesia (AOI) di Organic Cafe, Gedung Smesco, Jakarta (12/7).
Deasy yang memutuskan mengkonsumsi pangan organik sejak 2007 ini mengatakan bahwa selama ini dia telah mempelajari mengapa produk organik itu mahal. Ternyata karena praktik pertanian organiknya memerlukan kerja keras, kesabaran, kecekatan dan ketrampilan yang lebih dari petani. Mulai dari menyiapkan pupuk organik, lahan, benih, perawatan tanaman dari hama dan tanaman pengganggu.
Para petani organik tidak menggunakan bahan-bahan kimia sistetis dan memperlakukan tanaman dan lingkungan secara hati-hati. Tak ayal produk yang dihasilkan dan lingkungan sekitarnya bebas dari pencemaran bahan-bahan kimia sistetis seperti pestisida.
Produk organik yang bebas pestisida ini akan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. “Sebelum makan produk organik, saya sering sakit radang tenggorokan, berat badan sulit bertambah. Setelah memutuskan makan makanan organik dengan memasaknya sendiri dan tanpa penyedap masakan, saya tidak lagi merasakan sakit itu lagi dan jarang periksa kesehatan ke dokter lagi,” papar presenter di salah satu TV Swasta nasional ini.
Maka sudah selayaknya produk organik lebih mahal daripada produk non organik. Bagi konsumen yang mengetahui manfaat pangan organik itu pasti tidak akan sayang membayar lebih mahal untuk produk organik. Mereka akan menyadari bahwa biaya kesehatan yang harus dibayarkan bila sakit karena mengkonsumsi makanan yang tidak sehat akan lebih besar daripada biaya membeli peroduk organik.
Bagi Deasy, ini adalah pilihan bagi konsumen. Ingin membayar lebih mahal untuk produk organik dan sehat atau membayar lebih murah untuk produk non organik namun tidak sehat. Dengan uang yang pas-pasan, konsumen juga bisa mengatur konsumsinya. Bila ingin mengkonsumsi produk organik tidak harus setiap, tapi seminggu sekali dulu. “Tidak berat kok kalau melihat manfaat produk organik,” jelas Deasy.
Sayangnya produk organik hanya ditemukan di tempat-tempat khusus seperti swalayan. Deasy masih sulit mendapatkannya di pasar tradisional. Dia juga mesti teliti memilih produk organik meski berlabel organik, apalagi yang tidak berlabel. Kadang produk organik yang berlabel pun masih membuatnya ragu karena bentuknya yang bagus. Yang Deasy tahu bentuk produk organik tidak begitu bagus.
Ragu Label Organik
Kepercayaan konsumen pada produk organik yang dikonsumnya sangat penting karena dia juga telah rela mengeluarkan biaya yang lebih mahal. Untuk menjaga kepercayaan konsumen produk organik ini, Omistriyah sebagai petani organik dari Cijulang, Bogor, Jawa Barat mengatakan bahwa pada saat tertentu dia dan kelompok taninya mengundang konsumennya datang ke lahan organik dan menunjukkan proses produksinya seperti melalui upacara adat sedekah bumi (Seren Taun). Para petani juga menjelaskan kepada konsumen secara jujur dan terbuka mengenai kualitas produk organiknya, mana yang baru proses organik dan sudah organik.
Hingga saat ini Omistriyah bersama Koperasi Lestari memasarkan produk organiknya di seputar Bogor. Sehingga kemungkinan besar masih bisa bertemu langsung dengan konsumennya dan menjamin keaslian produk organiknya.
Bagaimana bila jarak petani dan konsumen jauh dan tidak memungkinkan untuk bertemu? Sabastian Saragih sebagai Koordinator Dewan Pertimbangan Anggota (DPA) AOI mengatakan bahwa petani bisa menggunakan sertifikasi atau penjaminan berbasis komunitas (PGS). Dengan sertifikasi yang terjangkau oleh petani kecil ini, produk organik memiliki jaminan lebih kuat daripada sekedar label. Selain itu juga kuat dari segi hukum.
Label dan kejujuran tidak cukup menjamin asli dan tidaknya produk organik. “Kejujuran itu moral dan sulit mengukurnya. Dalam negara hukum ini yang dilihat aspek legalitas,” kata Sabastian.
Penggunaan labelpun masih meragukan. Uji laboratorium yang menyebutkan suatu produk bebas residu kimia tertentu seperti pestisida juga hanya produk akhir saja. Dengan sertifikasi, jaminan bukan hanya produk akhir tapi juga mulai proses produksi yang pengawasannya dilakukan institusi yang kredibel.
Menurut Sabastian, 20 persen konsumen tidak percaya dengan produk organik yang ada dipasaran kecuali mereka beli langsung dari petani. Sebaiknya ada peraturan dan standar yang mengatur demikian juga sesuai dengan UU konsumen yang ada. (ANP/SNY)