AOI adakan Nonton Bareng di Universitas Djuanda Bogor
Selasa, 15 Mei 2012
Untuk memeriahkan acara Bogor Organic Fair 2 (BOF 2) & Festival Herbal Indonesia (FHI) yang akan dilaksanakan di Halaman Muka Kampus IPB Baranang Siang Bogor pada 9-10 Juni 2012, Aliansi organis Indonesia (AOI) dan Universitas Djuanda (UNIDA) mengadakan nonton bareng. Nonton bareng perdana ini bertempat di Universitas Djuanda Bogor. Acara ini dihadiri oleh sekitar 50 mahasiswa dan staf pengajar UNIDA plus peserta dari kalangan umum. Film yang ditayangkan adalah “Bisa Dewek”/“We Can Do It Ourselves” dan “Buah yang Menunggu Mati.”
“Bisa Dhewek” menceritakan bagaimana petani yang nota bene tak pernah ‘makan’ bangku pendidikan ternyata mampu membuat benih (padi). Melalui kegiatan Sekolah Lapang, tukar menukar informasi dan bermacam upaya yang dilakukan secara tekun, rajin dan ulet, petani bisa mendapatkan benih, pupuk dan pestisida organik sendiri. Ini nampak dari petani yang mampu menyilangkan benih dan mendapatkan varietas yang unggul seperti di film “Bisa Dewek” atau “(We Can Do It Ourselves)”.
“Jadi pendapat bahwa yang bisa menyilangkan benih hanya orang pintar itu tidak benar. Ternyata dengan ketekunan, kerajinan dan keuletan, petani bisa menyilangkan benih sendiri,” kata Gandhi Bayu dari KSU Lestari yang selama ini mendampingi petani organik di Cijulang, Bogor, Jawa Barat saat nonton dan diskusi di pre-event BOF 2 yang diselenggarakan Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan Universitas Djuanda di Gd. D Ruang D Fakultas Agribisnis dan Tekonologi Pangan, Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor, 14 Mei 2012.
Dengan mengadakan benih, pupuk dan pestisida organik sendiri petani bisa menghemat biaya produksi. Petani juga bisa melakukan perlindungan varietas tanaman unggul yang selama ini tergantung pada industri benih. Harapannya petani bisa sejahtera karena menghemat biaya produksi dan meningkatkan hasil panen.
Gandhi mengakui bahwa petani organik memerlukan waktu untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi. Lahan yang beralih ke pertanian organik mesti melewati masa konversi terlebih dahulu. Di masa-masa ini biasanya hasil panen menurun, maka petani perlu pendampingan dan dukungan dari para pihak.
Di saat yang sama, Nur Rochman, staf pengajar Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan UNIDA memaparkan bahwa UNIDA telah melakukan upaya pendampingan kepada petani untuk berorganik. Ada beberapa demplot petani yang sudah melakukan pertanian organik. Selain itu, melalui mata kuliah Pertanian Berkelanjutan, Nur Rochman berharap UNIDA bisa memberikan pembekalan kepada mahasiswa untuk melakukan pertanian organik juga.
Menurutnya, hasil panen pertanian organik dengan metode SRI terbukti bisa meningkatkan produksi. Dengan menggunakan air irigasi yang sedikit, bibit yang telah adaptif, penanaman bibit yang cukup satu untuk satu lubang tanam, hasil panen padi bisa melimpah dan pendapatan petani pun bisa meningkat. Tak hanya itu, petani juga bisa mengkonsumsi produk organik sehat yang dihasilkannya. Ini karena, kunci pertanian organik mengutamakan kebutuhan keluarganya terlebih dahulu, baru menjual sisa hasil panennya.
Bagi Nur Rochman, penyadaran akan pentingnya pertanian dan gaya hidup organik harus dilakukan secara berkelanjutan dengan menggunakan berbagai media seperti film, tulisan, pameran, talk show dan sebagainya.
Sedangkan Angga Wedaswara, Penggiat Film yang juga menjadi salah seorang nara sumber di acara tersebut mengatakan bahwa mahasiswa juga bisa berperan aktif melakukan penyadaran pentingnya pertanian dan gaya hidup organik kepada masyarakat di luar kampus. Tentunya bisa menggunakan media film yang efektif untuk dimengerti. (ANP/SNY)
Kontak Media:
1. Sri Nuryati (Ketua BOF2 & FHI) - sri@organicindonesia.org.
2. Ir. Nur Rochman (Staf Pengajar Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan Unida) -nurdhr@yahoo.com
3. Angga Wedhaswara (Sie Media & Publikasi BOF2 & FHI) - anggawedhaswhara@gmail.com